TETES AIR SEJUK DI KAMPUS UNIS

20130427_141316Butir-butir kecil air tampak jatuh secara perlahan di sebuah kampus di Kota Tangerang. Sabtu, 27 April 2013, di tengah rintik hujan yang membasahi tanah, Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) mengadakan seminar mengenai mata uang syariah. Jika kita membaca nama kampus tersebut, teringatlah kita kepada seorang ulama nusantara yang telah dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Pemerintah Indonesia dan Afrika Selatan. Syekh Yusuf, ulama kelahiran Makassar yang berhijrah ke Banten dan gigih menentang Belanda. Perlawanannya terhadap Belanda pada akhirnya membuat beliau dibuang ke Afrika Selatan yang justru dengan kehadirannya di sana, mulai terbentuk komunitas Islam di negeri itu.

Pembicara seminar yang didatangkan adalah Ir. H. Zaim Saidi, MPA,DSC02267 tokoh yang sejak sepuluh tahun lalu gigih menyampaikan perlunya kembali menggunakan dinar emas dan dirham perak di nusantara ini. Beliau pernah mendalami muamalat di Cape Town, Afrika Selatan, kota di mana Syekh Yusuf dimakamkan. Dengan bimbingan langsung dari H. Umar Vadillo (sekarang Shaykh) dan Shaykh Abdalqadir As Shufi, Pak Zaim menimba ilmu di sana selama hampir satu tahun. Shaykh Umar Vadillo merupakan tokoh yang mencetak kembali dinar dirham di abad modern ini dengan bimbingan dari gurunya, Shaykh Abdalqadir As Shufi. Tentu saja merupakan hal yang istimewa bagi para civitas akademika UNIS bahwa mereka bisa mendengarkan langsung dari narasumber yang kompeten tentang mata uang syariah karena pembicaranya merupakan murid langsung dari dua tokoh yang berjasa mengembalikan pengetahuan dan amal nyata dinar dirham.

DSC02256Sekitar dua ratus peserta seminar memenuhi aula kampus. Sebagian besar peserta adalah mahasiswa-mahasiswi UNIS meskipun ada juga peserta dari kampus sekitarnya. Pukul 14.00 WIB ceramah dari Bapak Zaim Saidi dimulai. Penjelasan demi penjelasan mengalir dengan lugas dan tegas. Hal yang disampaikan pada bagian awal tentang zakat mal yang harus ditunaikan dengan dinar emas dan/atau dirham perak sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Hal yang mungkin terdengar asing karena selama ini kita tidak merujuk pada teks asli fiqh zakat.

Di sela-sela penjelasan, Pak Zaim mengabarkan rencana pemberian DSC02262Beasiswa Riset Aksi bagi mahasiswa S1 yang melakukan riset (action research) dengan tema amal nyata dinar dirham. Setelah itu, para peserta seminar kembali diajak untuk menyelam lebih dalam pada hal yang jarang dibahas di bangku kuliah, yaitu tentang hakikat uang dalam Islam, asal-usul sekaligus tipu daya uang kertas dan perbankan serta keharusan untuk kembali memakai dinar emas dan dirham perak untuk zakat dan muamalat.

Tentu saja informasi yang disampaikan Bapak Zaim Saidi memaksa para peserta untuk keluar dari zona nyaman pemahaman pada umumnya dan merobek kebiasaan berpikir yang terlanjur menjadi doktrin. Setiap kalimat yang disampaikan beliau selalu melecut pendengarnya untuk mempertanyakan kembali kemapanan yang ternyata rapuh. Fakta daya beli uang kertas yang telah merosot sekian ribu kali merupakan hal yang tidak terbantahkan bahwa kertas tidak memenuhi syarat sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Juga kenyataan bahwa uang kertas adalah pernyataan utang Bank Indonesia kepada pemegangnya yang tidak bisa diklaim sehingga merupakan janji utang yang hampa.

Ekspresi wajah terperanjat sering terlihat sepanjang acara saat dipaparkan secara gamblang bahwa uang kertas yang selama ini dipakai dalam keseharian adalah suatu bentuk ketidakadilan dan tipu daya karena tidak ada nilai intrinsik dalam kertas, kecuali bahwa itu dipaksakan melalui bank sentral. Pak Zaim menegaskan kembali bahwa solusi atas hal ini adalah dengan kembali melaksanakan muamalah sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan generasi muslim terdahulu, yaitu menggunakan dinar emas dan dirham perak.

Pada kesempatan itu juga peserta seminar berkesempatan mengenali dirham perak yang diedarkan bergantian kepada peserta seminar yang rata-rata belum pernah melihat wujud fisik koin dirham perak. Ceramah ditutup dengan penyerahan hadiah oleh Bapak Zaim Saidi terhadap tiga penanya pertama, yaitu satu koin dirham perak Kesultanan Kasepuhan Cirebon untuk penanya pertama dan masing-masing satu koin nisfu dirham untuk penanya kedua dan ketiga. Hal itu merupakan salah satu wujud nyata penggunaan dirham perak dalam muamalah, yaitu sebagai hadiah, selain fungsi utamanya sebagai alat penunai zakat mal.

DSC02272Pada ujung acara Bapak Zaim Saidi berpesan kepada para peserta yang relatif masih muda agar ketika menikah nanti mengikuti contoh Rasulullah Shalallahualayhiwassalam yaitu menggunakan dinar emas dan/atau dirham perak sebagai maharnya. Beliau mengutip ucapan Imam Malik dalam Kitab Al Muwatta bahwa mahar yang diberikan kepada seorang wanita setidaknya berjumlah seperempat dinar. Menurut Pak Zaim, dalam kurs saat ini, seperempat dinar emas setara kurang lebih dengan delapan dirham perak.

Acara resmi pun berakhir dengan pemberian cindera mata dari pihak kampus kepada pembicara. Namun perbincangan lanjutan mengenai dinar dirham masih berlanjut secara santai dengan beberapa peserta.

Hujan rintik memang telah berhenti pada saat acara selesai. Akan tetapi apa yang telah disampaikan siang itu akan tetap menjadi air yang sejuk bagi yang mencarinya di tengah keringnya dominasi riba dan perbankan saat ini. Maka kewajiban mengamalkan dan menyampaikan pun menjadi melekat kepada orang-orang yang kini telah mengetahuinya. Karena kesejukan air harus disebarkan dan dibagikan kepada orang lain. Semoga para peserta seminar bisa segera mengamalkan apa yang telah diketahuinya sehingga kesejukan air tersebut bisa segera dirasakan oleh orang-orang di sekililingnya. Amin.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Ibu Muda dan Selembar Kertas

CIMG1668Kisah nyata ini terjadi sekitar dua setengah tahun lalu ketika saya masih bersama teman-teman lainnya yang tinggal di Yogyakarta melakukan perjalanan menggunakan kereta tiap minggunya antara Yogya dan Jakarta. Perjalanan rutin ini kami lakukan karena tempat kerja kami di Jakarta sedangkan tempat tinggal di Yogyakarta.

Salah satu rekan kami yang ikut “melaju” Yogya-Jakarta adalah seorang Ibu muda yang mempunyai seorang anak berusia sekitar tiga tahun saat itu. Si anak ditinggal bersama ayah dan mbahnya di Yogya sementara ibu muda tersebutlah yang melakukan perjalanan bolak-balik Yogya-Jakarta tiap minggunya. Tidak usah dibayangkan bagaimana beban yang ditanggung di hatinya sebagai seorang ibu yang berpisah dengan anaknya. Tak usah pula dikira-kira betapa galaunya hati menahan kerinduan kepada si anak.

Anda juga tak perlu bertanya kenapa tidak dibawa saja keluarganya ke Jakarta dan mengontrak rumah di sina, karena hal tersebut pernah dicobanya dan ternyata kondisinya tidak kondusif bagi anaknya saat itu. Hal itulah yang membuat dia nekat menjalani kehidupan yang cukup berat tiap minggunya.

Setelah hampir dua tahun menjalani rutinitas tersebut dan tentunya sudah lebih dari seratus perjalanan kereta yang dilalui, Ibu muda tersebut mulai membuat daftar di selembar kertas untuk mencatat pembelian tiket kereta yang dia perlukan.

Di selembar kertas tersebut dia tuliskan nama-nama bulan,dari Januari sampai dengan Desember, sehingga terdapat 12 baris pada kertas tersebut. Sedangkan sisi yang sejajar dengan bulan diisikan informasi tiket yang sudah dibelinya. Dengan cara itulah dia memastikan bahwa tiket-tiket untuk perjalanannya tiap minggu telah dia miliki sebelum hari perjalanannya.

Dengan berjalannya waktu, baris-baris bulan tersebut mulai terisi seiring perjalanan rutin yang  dia alami, yaitu Jumat sore berangkat dari Jakarta menju Yogya dan Minggu sore berangkat dari Yogya menuju Jakarta. Bukan tanpa halangan dia menjalani hal tersebut. Deraian air mata dan masalah-masalah dilalui dengan kesabaran sambil terus berharap dirinya bisa segera pindah ke Yogya dan berkumpul dengan keluarganya.

Suatu saat dia bertemu dengan seorang teman yang terlihat penasaran dengan kertas daftar tiket yang dia pegang. Setelah tahu isi kertas tersebut, teman tersebut berkata dengan wajah yang serius,”Apakah dirimu ingin segera pindah dan berkumpul dengan keluargamu?”

”Iya, tentu saja”.

“Kalau begitu, hapuslah sebagian tulisan dalam kertas catatanmu itu. Kalau kamu menuliskan bulan sampai dengan Desember, itu berarti dirimu masih berpikir masih berada di sini sampai bulan tersebut dan itu berarti dirimu belum siap untuk pindah ke home base-mu”, ujar temannya dengan wajah yang lebih serius.

Setelah mendengar hal itu, ibu muda tersebut menjalankan saran temannya. Dia bahkan merobek sebagian kertas catatan tiketnya hingga hanya tinggal beberapa bulan saja yang terpampang dalam kertas tersebut.

Ajaib, beberapa bulan kemudian, tepatnya pada bulan Juli 2011, keluarlah surat keputusan pemindahan atas nama Ibu muda tersebut dan dia dipindahkan ke Yogyakarta, home base-nya. Kisah ini berakhir bahagia dan Ibu muda tersebut akhirnya mendapatkan momongan keduanya tidak beberapa lama setelah tinggal di sana.

Rekan-rekan,

Tidak usah berpikir bahwa yang membuat ibu muda tersebut bisa pindah ke Yogya karena merobek kertas tadi. Sesungguhnya, merobek kertas tadi adalah suatu simbol tekad dan totalitas dalam hati ibu muda tersebut, untuk dapat mencapai hal yang sangat diinginkannya. Hal itu juga sebagai wujud optimisme dan pembersihan dari keragu-raguan.

Para motivator menyatakan bahwa apabila kita sangat ingin terhadap sesuatu, maka hal tersebut harus diletakkan di dalam hati dengan penuh kesungguhan. Ekspresi lahir kita pun diselaraskan dengan keinginan hati kita untuk memperkuat apa yang ada dalam hati, sehingga memacu kita untuk mencapainya. Penulis buku-buku motivasi seperti Rhonda Byrne dengan “The Secret” atau Erbe Sentanu dengan “Quantum Ikhlas”-nya menyebut hal tersebut sebagai suatu afirmasi positif sesuai hukum The Law of Attraction.

Kita boleh saja tidak percaya dengan segala macam teori motivasi itu tapi ada satu hal yang pasti kita sepakat bahwa Alloh Swt. adalah pengabul doa kita. Ketika kita meminta kepada Sang Pencipta maka kita harus sungguh-sungguh dalam memintanya dan secara lahir kita pun mengusahakan dengan segenap sumber daya. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk merobek dan mengenyahkan keraguan dalam diri kita untuk mencapai keinginan kita. Baru setelah itu kita berserah diri.

Selamat memperbaharui dan menekuni doa-doa kita dengan sepenuh hati. Semoga Alloh Swt. mengabulkan.

Jakarta, 23 April 2013 (disampaikan dalam acara Doa dan Renungan Pagi hari sebelum bekerja)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

MISTERI REZEKI

gs3-mini-lead“Tentu saja bukan untuk investasi. Salah satu fungsi utama dinar emas adalah untuk menunaikan zakat mal, karena nishob zakat mal ditentukan dalam satuan dinar dan dirham.”

Pertanyaan dari penelepon aku coba jawab sesuai pengetahuanku.

“Dinar dan dirham juga merupakan alat barter yang adil sesuai sunnah …”, aku melanjutkan penjelasanku ketika tiba-tiba terasa hening di telepon genggamku.

Ah, penyakit HP ku mulai kambuh lagi. Hang ketika sedang menerima panggilan. Gejala yang sering mengganggu ini sebenarnya sudah terjadi sejak dua minggu yang lalu. HP yang kubeli saat tinggal di Bojonegoro memang sudah 4 tahun aku pakai secara bergantian oleh aku dan istriku.

Niat untuk membeli HP pengganti sebenarnya juga sudah ada jauh sebelum HP menunjukkan gejala rusaknya, sekitar dua bulan yang lalu. Sempat terpikir untuk membeli jenis blackberry (BB) agar bisa ikut ber- BBM ria. Sebagaian rekanku menggunakan BB sehingga sering menanyakan PIN BB kepadaku yang tentu saja tak bisa kuberikan karena aku tidak menggunakan BB. Sempat juga aku berpikir untuk membeli jenis tablet agar lebih leluasa mengeksplor internet.

Beberapa pedagang HP pun pernah aku hubungi untuk berkonsultasi mengenai jenis HP yang sesuai untukku. Tentu saja diutamakan pedagang HP yang bisa menerima pembayaran menggunakan dinar/dirham. Salah satu anggota Jawara (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara) Bekasi pernah menawarkan beberapa jenis HP padaku. Sayangnya saat itu aku belum begitu tertarik dengan jenis HP tersebut.

Keinginan untuk membeli HP baru pun sempat terkubur beberapa waktu oleh kesibukanku dan muncul kembali ketika penyakit pada HP-ku kambuh lagi. Aku pun sempat membeli majalah yang menyajikan informasi beraneka merk HP. Lagi-lagi, rencana membeli HP tertunda karena kami harus ke Madiun untuk menjenguk orang tua. Sampai akhirnya aku mengalami pembicaraan yang terputus saat menjelaskan tentang dinar dirham membuatku bertekad untuk segera mengganti HP-ku.

Salah satu toko HP yang ingin kutuju adalah toko di ITC Fatmawati karena telah menerima pembayaran menggunakan dinar dirham. Beberapa teman juga sudah pernah membeli BB di sana menggunakan dinar dirham. Hampir saja aku ke sana sampai akhirnya istriku baru ingat bahwa ada teman di Kudus yang mempunyai usaha menjual HP.

Dari beberapa SMS singkat, teman kami di Kudus bersedia menerima pembayaran menggunakan dinar dirham. Dengan bantuan Wakala Amaal di Kudus akhirnya pembayaran menggunakan dinar dirham bisa dilakukan dan HP baru pun akhirnya kudapatkan.

Alhamdulillah, setelah beberapa kali tertunda, bahkan sempat bingung memilih jenis HP dan pedagang yang bisa menerima dinar dirham, aku bisa merealisasikan pembelian HP dengan salah satu pedagang di Kudus. Aku mendapatkan HP dan pedagang tersebut mendapatkan dinar dirham. Pertukaran ini mudah-mudahan menjadi transaksi yang berkah.

Bagiku, perlu beberapa waktu, beraneka peristiwa dan berbagai pertimbangan untuk sampai ketemu dan memilih pedagang HP tersebut. Atau sebenarnya demikianlah mekanisme yang Alloh ciptakan agar aku bisa sampai membeli HP kepada pedagang tersebut dan menjadi jalan untuk sampainya rezeki kepadanya. Aku sendiri tidak tahu bahwa akan menjadi salah satu jalan rezeki baginya dan pedagang itu pun tidak tahu bahwa rezeki yang akan sampai padanya itu ternyata melalui diriku yang bermula dari keinginanku untuk mempunyai HP baru beberapa bulan yang lalu, yang bahkan saat itu aku tidak terpikir untuk membeli kepadanya. Sungguh karena Alloh yang mengatur rezeki tersebut sehingga Dia-lah yang menggerakkan hati, fisik dan alam semesta sesuai kehendak-Nya sehingga aku membeli HP tersebut kepadanya. Demikian juga rezeki-rezeki lainnya yang dia terima melalui penjualan kepada orang lain, pastinya melalui rangkaian peristiwa yang tidak dia ketahui, sampai akhirnya berwujud sebagai penjualan olehnya dan pembelian oleh konsumennya.

Kini aku memegang HP yang kubeli dari temanku, yang sekaligus memberiku pelajaran tentang misteri rezeki, bahwa Alloh lah yang mengaruniakan rezeki dengan cara yang tidak selalu diketahui manusia. Alloh, Dia-lah Ar Razaq yang memberikan rezeki kepada makhluk-Nya dengan cara yang misterius.

Tentu saja misteri rezeki bersumber dari-Nya. Kita tidak tahu detil misteri tersebut. Aku pun tidak tahu kapan dan dengan siapa aku akan berbicara menggunakan HP baruku, “Iya betul. Saya menyediakan buku-buku tentang muamalat …. Menerima pembayaran menggunakan dirham perak. Buku yang mana yang Bapak inginkan?”

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 1 Comment

STEREOGRAM

stereogram siputSatu minggu sebelum bulan Februari 2013 berakhir, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan seorang teman dalam perjalanan dari Depok menuju Stasiun Gambir. Pembicaraan ringan tapi sarat makna tersebut pada akhirnya mengingatkan saya dengan gambar stereogram. Bagi rekan-rekan yang belum pernah tahu tentang stereogram, bisa melakuan searching di Google untuk mencari tahu apa itu stereogram dan bagaimana wujudnya. Singkatnya, stereogram adalah gambar yang nampak acak tapi jika dilihat dengan fokus mata yang benar, akan muncul gambar lainnya yang indah dengan kesan tiga dimensi.

Pertama kali saya mengenal stereogram adalah saat duduk di bangku 3 SMA, saat seorang teman membawa banyak sekali gambar stereogram ke dalam kelas. Pertama kali saya mencoba melihatnya, saya tidak langsung bisa mendapatkan penampakan gambar tiga dimensi dan kemudian malas untuk mencobanya lagi. Baru setelah teman saya meyakinkan saya bahwa saya akan mendapatkan suatu view yang baru dan kenikmatan tersendiri bila saya berhasil memiliki kemampuan tersebut maka saya menjadi terpacu untuk berlatih melihat stereogram. Alhamdulillah, rasa penasaran saya membuat saya gigih untuk mencoba dan akhirnya berhasil menguasai cara melihatnya.

Cara yang disampaikan teman sekelas saya saat itu adalah dengan melihat memfokuskan pandangan bukan pada gambar di kertas tersebut melainkan di belakangnya. Jadi, melihatnya menembus ke dalam, tidak pada permukaan gambar. Yang tampak di permukaan kertas itu jangan menjadi fokus mata kita, tapi fokuskan seakan-akan ada objek di belakang kertas itu. Dari gambar dua dimensi yang sepertinya tidak bermakna ternyata di dalamnya terdapat gambar tiga dimensi, misalnya binatang seperti kelinci, kura-kura, dinosaurus, ikan, siput dan binatang lainnya. Juga ada gambar tiga dimensi bangunan megah, pesawat, bebatuan, putri kerajaan dan lain-lain tergantung pembuat stereogram tersebut.

Saya menemukan relevansi gambar stereogram tersebut dengan romantika kehidupan yang saya alami. Dengan beberapa kejadian, kesulitan dan perubahan yang terjadi di kehidupan kita saat ini, menuntut kita untuk menyikapinya dengan bijak dan memandang dengan sisi yang benar. Pengalaman hidup dan fakta yang terjadi pada diri kita yang kadang terasa pahit mirip sebuah stereogram yang ternyata mempunyai gambar yang jauh berbeda daripada gambar yang tampak di depan kita.

Sebuah musibah atau hal yang tidak menyenangkan yang terjadi pada diri kita bisa saja mempunyai makna tertentu yang jika direnungkan dengan hati yang jernih dan bersih ternyata mempunyai hikmah tersendiri. Kita tentu pernah mendengar cerita bahwa ada seseorang yang tertinggal pesawat terbang tetapi hal itu malah membuatnya selamat dari musibah kecelakaan pesawat yang semestinya dia tumpangi. Artinya, fakta bahwa dia tertinggal pesawat tidak bisa dimaknai sampai di situ saja. Ada hal lain yang harus dipahami di balik peristiwa itu yaitu bahwa dia diselamatkan dari kecelakaan.

Begitu juga dengan hal-hal yang menyenangkan dan kesuksesan yang kita terima, hendaknya kita sikapi dengan bijak. Bisa jadi Allah Swt. titipkan pesan dengan kesuksesan kita agar kita lebih peduli terhadap sesama, terhadap yang belum mampu dan sebagainya. Atau bisa jadi kita sedang dicoba dengan keberlebihan, apakah kita menjadi sombong atau tidak.

Lalu bagaimana cara untuk bisa menangkap hikmah yang Allah Swt. sampaikan kepada kita melalui kejadian yang kita alami, terutama saat terkena musibah?

Melihat gambar stereogram memerlukan teknik penglihatan yang tidak memfokuskan pada sesuatu di permukaan gambar. Demikian juga dengan cara menangkap hikmah, tentu saja kita tidak boleh terlena dengan kenyataan tampak oleh mata fisik kita. Melihat jauh ke balik peristiwa yang kita alami adalah caranya. Para motivator dan agamawan menyebutkan bahwa kunci utamanya adalah bersyukur, menikmati semua yang kita terima, entah menyenangkan atau tidak menyenangkan. Terhadap semua yang kita terima, kita upayakan hati kita untuk berprasangka baik kepada Allah Swt. yang atas kehendak-Nya lah sesuatu itu terjadi. Tentu saja dengan disertai sabar dan tawakal – kata yang sepertinya klise tapi sangat ampuh.

Teman perjalanan saya mengilustrasikan bahwa cara yang bisa ditempuh adalah dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. dan mengakui bahwa kita tidak berdaya, tidak mampu dan hanya Allah Swt yang mampu. Dalam kondisi penyerahan tersebut akan sangat menakjubkan bisa melihat bagaimana kekuasaan Allah Swt. bekerja dan kita bisa melihat makna dari sebuah kejadian dan jalan keluarnya.

Pernyataan tersebut mengingatkan saya kepada isi tausiyah Shaykh Umar Vadillo di Cirebon bahwa para sufi menggunakan mata batin, bukan mata fisik dalam memaknai dan melihat dunia, sehingga kemana pun melihat, yang dilihat adalah (kebesaran) Allah Swt. Beliau menyampaikan bahwa indera mempunyai keterbatasan karena hanya bisa menangkap sesuatu yang bisa diukur dan ditimbang sedangkan makna tidak bisa ditangkap dengan hal tersebut karena merupakan hal yang sangat luas dan dalam melebihi apa yang dapat kita pikirkan dan perkirakan.

Saya sendiri masih harus berlatih dan berusaha untuk melihat indahnya “stereogram kehidupan” di balik kesulitan-kesulitan dan fenomena kehidupan yang saya alami. Tak jarang saya tidak bisa langsung melihat keindahan “gambar stereogram” tersebut, atau masih perlu waktu untuk bisa melihat “gambarnya” . Dalam kondisi tersebut saya berharap masih dikaruniai sabar dan tawakal. Hal lain yang bisa saya lakukan adalah bertanya kepada orang yang telah lebih dulu melihat keindahan “gambar” tersebut sehingga saya tidak berprasangka buruk kepada Alloh Swt.

Semoga Alloh Swt. membukakan mata batin kita akan makna dan hikmah sehingga apa pun “gambar stereogram” yang kita hadapi, kita bisa menikmati indahnya hal tersebut karena sesungguhnya kebesaran Allah Swt.-lah yang kita lihat. Amin.

(Jakarta, 6 Maret 2013)

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Mengamalkan Kembali Qirad: Penggunaan Dinar Emas dan Dirham Perak untuk Usaha Riil

qIRADAllah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Al Quran Surat Al Baqarah ayat 275)

Ayat di atas merupakan firman Alloh yang begitu jelas menyatakan bahwa riba itu haram sedangkan yang halal adalah jual beli. Pada kenyataannya, untuk berjual beli (yang seharusnya halal), umat Islam banyak yang terlibat dengan sesuatu yang haram, yaitu riba. Shayh Umar Vadillo dalam “Fatwa on Banking and The Use of Interest Received on Bank Deposits”, menyebutkan bahwa dalam Islam terdapat alternatif agar tidak terjebak dalam transaksi berbasiskan riba, yaitu syirkat (atau musyarakah) dan qirad (atau mudharabah). Keduanya merupakan kontrak bisnis utama dalam Islam.

Sayang sekali, praktik qirad dan syirkat yang murni menjadi menghilang dengan tidak tersedianya dinar emas dan dirham perak pasca runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani dan mulai mendominasinya perbankan. Lebih dari itu, praktik syirkat dan qirad malah menjadi sekedar nama yang substansinya tidak lepas dari riba karena melenceng dari aturan-aturan yang membatasinya.

Penjelasan mengenai kedua kontrak tersebut dapat diakses pada tulisan Bapak Zaim Saidi ( http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Memahami.Syirkat.dan.Qirad/56.) Berikut ini adalah beberapa kutipannya mengenai qirad.

Bila disarikan intinya adalah sebagai berikut:

  • Qirad adalah kontrak kerjasama dagang antara dua pihak: yang satu adalah pemilik modal dan yang lain adalah pemilik tenaga yang akan bertindak sebagai Agen bagi pihak pertama.
  • Pihak kedua menerima modal dari pihak pertama sebagai pinjaman dan akan membagikan keuntungan yang diperoleh dari usaha dagang yang menggunakan modal dari pihak pertama tersebut.

CIMG3279Kondisi-kondisi kontrak qirad adalah sbb:

  • Kontrak diawali dan diakhiri dalam bentuk tunai (Dinar Emas atau Dirham Perak), tidak dalam bentuk komoditas.
  • Keuntungan dari usaha, bila diperoleh, dibagi berdasarkan proporsi yang disepakati sejak awal dan dituangkan dalam kontrak, misalnya 50:50 atau 45:55
  • Kerugian dagang, bila terjadi, sepenuhnya (100%) ditanggung oleh pemilik modal. Tetapi kerugian yang ditimbulkan karena Agen menyimpang dari perjanjian, atau nilainya melebihi jumlah uang yang diperjanjikan, menjadi tanggungan pihak Agen.
  • Kontrak tidak mensyaratkan suatu garansi apa pun dari pihak Agen kepada pemilik modal akan sukses atau tidaknya usaha bersangkutan.
  • Tidak ada pembatasan kontrak atas dasar waktu tertentu, melainkan berdasarkan suatu siklus usaha.
  • Keuntungan usaha tidak boleh digunakan oleh pihak Agen sampai semua milik investor telah dibayarkan.

Dengan mulai dikenal dan diamalkan kembali dinar emas dan dirham perak, muamalat pun mulai bergeliat dan praktik nyata qirad juga mulai kembali diamalkan. Sepanjang pengetahuan penulis, beberapa qirad yang pernah dipublikasikan adalah (http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Dua.Qirad..Mancanegara./1167) :

  1. Qirad untuk Perdagangan Alat Tester Emas, antara Haji Awaladin (pemodal) dan qirad mancanegaraBapak Abdarrahman Rachadi  (pemilik usaha) tanggal 10 April 2012, dengan modal 100 dirham perak.
  2. Qirad untuk Perdagangan kaos, antara Haji Awaladin (pemodal) dan Devid Hardi (pemilik usaha) tanggal 10 April 2012, dengan modal 100 dirham perak.

CIMG5013Selain yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa praktik qirad atau kerja sama usaha riil yang menggunakan dinar emas dan dirham perak yang telah diamalkan oleh para anggota Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara (JAWARA). Di antaranya adalah penjualan es buah dalam acara Festival Hari Pasaran Dinar Dirham (FHP) di Al Azhar, penjualan es madu di FHP Pondok Indah, kerja sama produksi untuk kaos dinar dirham di Bandung, kerja sama pertanian di Pengalengan dan mungkin ada kerja sama lainnya yang tidak penulis ketahui. Sedangkan kabar terakhir mengenai praktik qirad berasal dari anggota Jawara Yogya (Sdr. Ghulam Mishbah) yang memulai usaha perdagangan berupa brankas buku. Yang perlu digarisbawahi dari kerja sama tersebut adalah bukan dinar atau dirhamnya yang diperdagangkan, melainkan barang/usaha riil lainnya yang modalnya menggunakan dinar emas dan dirham perak.

Praktik kerja sama tersebut di atas ternyata menjadi menarik dan penting karena beberapa hal. Pertama, praktik qirad (dan syirkat) menumbuhkan kembali rasa saling percaya antara pemodal dan pelaku usaha atau antara sesama pelaku usaha – suatu hal yang dirasakan mulai luntur akhir-akhir ini. Kedua, modal usaha yang diperlukan untuk menjalankan usaha bisa didapatkan tanpa melalui bank (yang merupakan sarang riba), sehingga terbebas dari riba. Ketiga, praktik tersebut merupakan amal nyata penggunaan dinar emas dan dirham perak sesuai dengan generasi Islam pertama sehingga mengamalkan itu kembali merupakan sunnah.

Mudah-mudahan dengan mengamalkan hal tersebut kita bisa mendapatkan keberkahan dari usaha kita karena melakukan sesuatu yang halal, menghindarkan diri dari riba dan menegakkan kembali sunnah. Amin. Anda berminat?

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

MEMILIH BARISAN

Saya pernah ditanya kenapa saya memilih ikut dalam kegiatan memasyarakatkan dinar dirham sebagai penunai zakat dan muamalat. Tentu saja pertanyaan ini muncul karena saat ini ada kelompok yang menggunakan kedua koin tersebut untuk tujuan selain menjalankan syariat Islam. Saya juga pernah ditanya kenapa sependapat dengan dinar emas dan dirham perak (serta fulus) sebagai uang, karena hal tersebut berarti berlawanan dengan arus zaman sekarang yang menggunakan fiat money tanpa back up emas.

Sederhana saja, bahwa saya yakin bahwa ajaran Islam sudah mencakup semua hal, termasuk muamalat, sehingga apa yang diajarkan oleh Islam (melalui Al Quran dan sunnah Nabi) adalah pedoman yang pasti benar dan yang terbaik. Adapun ketika saat ini kita mengalami kendala untuk kembali ke muamalat yang diamalkan Nabi dan para sahabat, itu merupakan pertanda bahwa kita sudah sedemikian jauh melenceng dari aturan yang seharusnya. Nafsu kita membuat kita sulit untuk kembali kepada ajaran yang benar.

Bagi saya, apa yang diamalkan Rasul, sahabat dan generasi Islam terdahulu jelas lebih baik dibanding apa yang diajarkan oleh Profesor dan Doktor ekonomi zaman sekarang. Imam Al Ghazali yang mengatakan dalam Kitab Ihya Ulumudin bahwa dinar dirham adalah uang yang adil lebih pantas dipercaya daripada para kapitalis saat ini dengan sistem finansial riba-nya.
Yang membuat saya lebih yakin adalah bahwa pengajaran mengenai dinar emas, dirham perak, dan muamalat melawan riba, diperkenalkan kembali oleh Shaykh yang mendapatkan pengajaran secara berantai dan tersambung dari guru/shaykh di atasnya sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau adalah Shaykh Abdalqadir As Shufi dan Shaykh Umar Ibrahim Vadillo. Mereka adalah para shaykh yang mengajarkan dan menghadirkan kembali dinar emas dan dirham perak di abad modern ini. Mereka adalah guru abad ini yang berhasil membaca tanda zaman dan memberikan solusi atas permasalahan umat Islam saat ini, salah satunya adalah dengan mengembalikan muamalat, dinar dan dirham (serta fulus).

Meskipun saya tidak/belum pernah mendapatkan pengajaran langsung dalam kurun waktu yang lama (hanya pernah bersama selama beberapa jam dengan Shaykh Umar dalam sebuah majelis dan belum pernah bertemu secara langsung dengan Shaykh Abdalqadir As Shufi), saya merasa beruntung bisa mengenal dan bersama dengan murid-murid langsung Shaykh yang telah mendapatkan pengajaran sekian lama. Tentu saja, para shaykh tersebut bagi saya adalah guru-guru yang saya coba ikuti arahan dan petunjuknya. Dengan bersama para murid langsung shaykh yang selalu mendapatkan bimbingan dan arahan dari shaykh, saya yakin bahwa apa yang saya ikuti dan jalani bersama mereka adalah dalam jalur yang benar.

Para shaykh tersebut berpesan untuk mengamalkan apa yang sudah diketahui, sehingga dinar dirham bukanlah sekedar wacana. Penyakit “wacana” inilah yang kadang muncul di kalangan akademisi yang belajar tanpa bimbingan guru/shaykh sehingga amalan sunnah tersebut menjadi ajang debat semata dan nol dalam praktik. Tidak heran jika ada buku tentang dinar dirham yang justru malah menyesatkan umat Islam karena menyajikan informasi yang salah, yaitu menjadikannya alat untuk mendapatkan kertas rupiah yang lebih banyak. Ini juga menjadi peringatan bagi kita untuk selektif dalam membaca buku.

Sekali lagi, saya akan memilih buku-buku, pengajaran dan amalan yang ditulis, diajarkan dan diamalkan oleh para shaykh dan murid-muridnya sehingga tetap berada dalam jalur yang benar. Tentu saja, membaca buku dan mendapatkan ilmu saja tidak cukup. Harus diamalkan sehingga ilmu tersebut tidak menjadi penyakit.

Saya berharap bahwa nanti di yaumil akhir, sebagaimana disampaikan Bapak Nurman Kholis kepada saya, bisa ikut berbaris dalam barisan yang bersambung dan sampai kepada Rasulullah SAW, bukan barisan yang terputus, sehingga mendapatkan syafaat dari beliau. Dengan mengikuti pengajaran para shaykh tersebut mudah-mudahan kita bisa ikut masuk dalam barisan yang selamat tersebut. Amin.

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Memahami Posisi Uang Kertas dan Bank Indonesia (Sudut Pandang Akuntansi)

Penjelasan mengenai asal-usul, hakikat dan posisi uang kertas sebagai uang hampa sudah dituliskan dengan rinci oleh Bapak Zaim Saidi dalam Buku Euforia Emas (Pustaka Adina, 2011). Lima bab pertama buku tersebut menyajikan hal-hal yang sangat mendasar mengenai riba, asal-usul uang kertas dan posisi Bank Indonesia (BI). Penulis juga merekomendasikan suatu solusi nyata atas permasalahan tersebut, yaitu kembali menggunakan dinar emas dan dirham perak untuk muamalah dan menunaikan zakat. Reaksi atas buku tersebut tentu saja bisa beragam, bisa sependapat, bisa juga tidak percaya atau bahkan sinisme.

Tulisan sederhana ini mencoba mengurai posisi uang kertas dan Bank Indonesia dengan memakai sudut pandang akuntansi sebagai suatu bahasa bisnis. Sudut pandang ini diharapkan bisa melengkapi cara pandang terhadap suatu fakta sehingga bisa membantu memahami uang kertas dan Bank Indonesia. Analisis akuntansi dilakukan terhadap laporan keuangan BI, terutama pada neraca.

Neraca merupakan bagian dari laporan keuangan suatu entitas yang dihasilkan pada suatu periode yang menunjukkan posisi keuangan entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu aset, liabilitas, dan ekuitas yang dihubungkan dengan persamaan akuntansi:

Aset = Liabilitas + Ekuitas

 Aset (aktiva) mencerminkan sumber daya yang dikuasai oleh entitas, sedangkan utang dan ekuitas mencerminkan hak atau klaim atas sumber daya entitas. Dengan demikian untuk mengetahui sumber daya yang dikuasai Bank Indonesia, kita bisa melihatnya pada sisi aset (aktiva) sedangkan untuk mengetahui siapa yang yang memiliki klaim/hak atas Bank Indonesia kita bisa melihat pada sisi liabilitas (utang) dan ekuitas.

Laporan keuangan tahunan BI, terutama neraca BI per tanggal 31 Desember 2010 dapat diunduh pada website resmi Bank Indonesia pada link http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Laporan+Tahunan/Laporan+Tahunan+BI/lktbi_2010.htm. Dengan melakukan analisis vertikal (menghubungkan antar akun dalam tahun yang sama) atas neraca BI dan dengan melihat pada penjelasan dalam catatan atas laporan keuangan maka kita akan memperoleh fakta-fakta sebagai berikut:

A. AKTIVA

Aktiva BI merupakan sumber daya yang dimiliki BI yang memberi manfaat di masa datang.

  • Total aktiva (aset) dari BI sebesar Rp 1.180 trilyun ternyata disokong terutama oleh dua komponen besar, yaitu:
  1. Surat Berharga, sebesar Rp 766 trilyun atau 64.92% dari total aset, dan
  2. Tagihan (kepada pihak lain), sebesar Rp 269,6 trilyun atau 22.85% dari total aset. Jumlah tersebut terutama berasal dari tagihan kepada pemerintah, sebesar Rp 251 trilyun (21,3% dari total aktiva).
  • Jenis aktiva lainnya dalam neraca nilainya tidak sebesar kedua akun tersebut.
  • Terdapat aset berupa emas yang nilainya Rp 29,76 trilyun atau hanya 2.52% dari total aset. Emas tersebut terdiri dari emas batangan, deposito berjangka emas, dan surat-surat berharga emas.

Hal ini berarti emas yang dinyatakan dalam neraca tidak semuanya berwujud emas batangan. Sayangnya tidak ada perincian seberapa besar nilai emas batangan yang sesungguhnya.

B. KEWAJIBAN

Kewajiban merupakan hak atau klaim terhadap sumber daya BI yang merupakan porsi/bagian pemberi pinjaman.

  1. Total kewajiban (utang) BI adalah Rp 1.111 trilyun atau 94,17% dari total aset. Ini bermakna bahwa 94,17% aset BI berasal dari utang!
  2. Unsur utama dari utang BI ada empat, yaitu uang dalam peredaran (28,67%), giro (23,28%), sertifikat BI (17,59%) dan penempatan berjangka (15,41%). Sedangkan sisanya sebesar 15,05% tersebar dalam beberapa jenis utang. Berikut adalah perincian unsur utama utang BI:
  • i. Uang dalam peredaran, merupakan uang kertas dan uang logam yang telah dinyatakan sebagai alat pembayaran yang sah, nilainya sebesar Rp 318 trilyun atau 28,67% dari total utang.

Dalam neraca BI, uang dalam peredaran diletakan pada sisi kewajiban (utang) sehingga posisi uang yg beredar merupakan utang BI kepada pemegang uang tersebut. Konsekuensi selanjutnya adalah setiap pemegang uang seharusnya mempunyai klaim terhadap aset BI. Hal ini sangat menarik karena bermakna bahwa uang yang diedarkan BI bukanlah harta yang sesungguhnya, melainkan bukti surat utang BI terhadap pemegang uang.

Muncul pertanyaan, jika memang uang yang beredar merupakan surat utang, klaim apakah yang bisa dilakukan pemegang uang terhadap BI? Tentunya, seharusnya berupa klaim terhadap aset BI. Aset BI sendiri ternyata sebagian besar berupa surat berharga dan aset riilnya hanyalah emas dan sedikit aktiva tetap (tanah dan bangunan).

Jika memang pemegang uang bisa mengklaim emas, maka klaim tersebut tidak bisa terpenuhi karena nilai emas (dengan asumsi semua emas adalah dalam bentuk emas batangan) hanya sejumlah Rp 29,76  trilyun. Bandingkan dengan jumlah uang beredar yang senilai Rp 1.111 trilyun atau 37 kali lipat nilai emas.

Tentu saja klaim atas emas tidak dapat dilakukan karena BI tidak menjamin peredaran uang dengan emas.

Jadi, uang yang beredar yang merupakan utang BI ke masyarakat ternyata tidak bisa dilakukan klaim atas aset riil sehingga surat utang tersebut sifatnya hampa. Ibarat cek, uang yang kita pegang adalah cek yang tidak bisa diuangkan karena tidak ada dana yang tersedia!

ii. Giro yang merupakan simpanan pada BI, sebesar Rp 258,6 trilyun atau 23,28% dari total utang. Giro/simpanan tersebut berasal dari:

1)    pemerintah, sebesar Rp 91 trilyun, atau 8,19% dari total utang;

2)    bank, sebesar Rp 166,1 trilyun atau 14,95% dari total utang;

3)    lainnya, sebesar Rp 1,5 trilyun atau 0,14% dari total utang.

Dapat diketahui bahwa giro/simpanan dari bank mempunyai porsi yang terbesar dibanding yang lainnya.

iii. Sertifikat Bank Indonesia (SBI), sebesar Rp 195,5 trilyun atau 17,59% dari total utang.

SBI merupakan pengakuan utang jangka pendek BI. Pihak yang menempatkan dana pada SBI mayoritas adalah lembaga perbankan.

iv. Penempatan Berjangka, sebesar Rp 171,2 trilyun atau 15.41% dari total utang. Merupakan penempatan dana oleh peserta operasi moneter (lembaga perbankan) secara berjangka di BI.

v. Berbagai jenis utang lainnya senilai Rp 167,2 trilyun atau 15,05% dari total utang terdiri dari Sertifikat Bank Syariah, Penempatan Dana dan lain-lain.

3. Jika dikelompokan dari jenis sumber pemberi utang maka utang BI terutama berasal dari swasta (lembaga perbankan) yaitu 58,1% dari total utang. Ini memberikan bukti bahwa pemegang klaim mayoritas terhadap BI adalah pihak swasta (perbankan). Perincian sumber utang adalah berasal dari:

  • Pihak swasta (perbankan) sebesar Rp Rp 645,6 trilyun atau 58,1% dari total utang, yaitu dari Giro dari bank dan lainnya (selain pemerintah), Sertifikat Bank Indonesia, Penempatan Berjangka, Penempatan Dana, Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah, Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah;
  • Masyarakat, melaui uang beredar sebesar Rp 318 trilyun atau 28,67% dari total utang;
  • Pemerintah, sebesar Rp 91,1 trilyun atau 8,2% dari total utang, terdiri dari giro pemerintah dan pinjaman pemerintah;
  • Luar negeri dan lain-lain, sebesar Rp 55,88 trilyun atau 5,03% dari total utang.

C. EKUITAS

Ekuitas merupakan hak atau klaim terhadap sumber daya BI yang merupakan porsi/bagian pihak selain pemberi pinjaman. Ekuitas BI hanya berjumlah Rp 68,8 trilyun atau 5,83% dari total aset.

Dengan melihat data neraca BI tersebut di atas, beberapa hal yang bisa kita simpulkan adalah:

  1. Uang yang dimiliki/beredar di masyarakat merupakan surat utang Bank Indonesia kepada para pemegang uang tersebut. Akan tetapi, atas surat utang tersebut BI tidak menyediakan aset riil yang cukup untuk menjaminnya. Ini berarti bahwa uang tersebut adalah uang yang hampa karena BI tidak pernah bisa memberikan pelunasan atas surat utang yang dikeluarkannya.
  2. Emas yang dimiliki BI sangat sedikit, yaitu hanya Rp 29,7 trilyun, tidak sampai 2.52% dari total aset. Itu pun yang nyata-nyata berwujud emas batangan jumlahnya di bawah angka tersebut.
  3. Pemerintah RI dan BI adalah dua entitas yang berbeda. Secara akuntansi terbukti dari adanya akun di neraca BI, sisi aktiva, berupa tagihan kepada pemerintah dan di sisi utang terdapat giro (simpanan) pemerintah dan pinjaman pemerintah;
  4. Pemilik hak atau klaim mayoritas terhadap BI secara nyata adalah pihak swasta yaitu bank-bank yang menempatkan dana di BI melalui SBI maupun surat berharga lainnya.

Kesimpulan dari sudut pandang akuntansi tersebut ternyata senada dan mendukung uraian yang dipaparkan dalam Buku Euforia Emas. Dengan demikian, analisis yang berbeda sekalipun tetap menghasilkan kesimpulan yang sama. Selanjutnya, dengan fakta tersebut seharusnya menjadikan kita lebih cerdas dalam mengambil keputusan. Sangatlah tepat ajakan dari penulis Buku Euforia Emas untuk kembali menggunakan dinar emas dan dirham perak, uang sejati yang tidak perlu jaminan dari siapa pun, karena Alloh SWT-lah yang menjamin nilainya. Dinar emas dan dirham perak adalah uang yang adil yang digunakan untuk menunaikan zakat mal dan muamalah. Selamat membuat keputusan!

(M.Abdurrasyidi, Jakarta 23 Februari 2012)

Posted in Uncategorized | Leave a comment